alt text

Film Dakwah Itu Mitos

tidak hanya film bertema cinta murni remaja yang booming tapi juga film-film berlatar belakang religious

Resensi Novel
alt text

Merayakan Keberagamaan Secara Populer

Terpenuhinya selera penonton dapat dilihat dari sejumlah iklan yang masuk terhadap salah satu syiar agama yang ditayangkan.

Rayakan Keberagamaan Populer
alt text

Antara Ali Syariati dan Pram

Syariati dan Pram memperjuangkan bangsanya masing-masing; berjuang melalui tulisan.

Kepekaan Ali Syariati dan Pram
alt text

Pemukulan Wartawan, Korban Kesombongannya?

Mungkinkah pemukulan wartawan sebagai korban kesombongannya sendiri?.

Pemukulan Wartawan, Korban Kesombongannya sendiri

Film Dakwah, Mitos atau Realitas?

  • by
  • Cinta, dalam konteks apapun selalu laku dijual. Getir manisnya selalu menjadi daya tarik, getir manisnya menjadi kenangan. CInta masuk ke dalam berbagai terminology, mulai dari psikologi, sosial, komunikasi, termasuk terminology agama. Bertemunya berbagai terminology dalam menyatukan berbagai imajinasi dan visualisasi melahirkan cinta yang dimediasikan oleh Film dan tayangan sejenis dalam ontology sebuah layar. Cinta menjadi penghias yang bahkan melebihi dari substansinya sendiri.

    Bangkitnya kembali film Indonesia tidak lepas dari tema cinta, sebut saja momentum itu dilakukan oleh film ‘Ada Apa Dengan Cinta’ (AADC) yang tayang tahun 1999. Ia menyumbangkan kegairahan kembali kepada sejumlah sineas film untuk meng-create film-film berkualitas. Namun kegairahan film-film tersebut mayoritas didominasi oleh film yang bertema Cinta seperti ‘Eifl I’m in Love’, ‘ yang cukup memenuhi dahaga penonton disusul dengan ‘Get Married’ dan film-film lainnya datang silih berganti menggantikan layar bioskop.

    Boomingnya Film Dakwah?
    Menjelang tahun 2003-2005, tidak hanya film bertema cinta murni remaja yang booming tapi juga film-film berlatar belakang religious. Setelah gagal mengangkat tema tentang sejarah ‘Sunan Kalijaga’ yang memiliki tema perjuangan dakwah dan syiar agama. Film ‘Ayat-ayat Cinta’ disebut-sebut sebagai moment kebangkitan film bertema dakwah setelah masa Nada dan Dakwah di Era 1990-an yang diperankan oleh Rhoma Irama dan KH. Zaenudin MZ.. Film ini mampu menyedot penonton mencapai 2 juta-an lebih.

    Seolah ingin mendulang kesuksesan ‘Ayat-Ayat cinta’, menyusul film sejenis dengan latar yang sama, diangkat dari novel Habiburahman El-Syirazi, ‘Ketika Cinta Bertasbih’ diikuti sekuelnya, Ketika Cinta Bertasbih 2. Film ini pun ditengarai sebagai film dakwah mendulang sukses dengan capaian penonton jutaan.

    Kesuksesan Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih 1 & 2 mendorong sang novelis untuk memproduksi filmnya sendiri. “Dalam Mihrab Cinta” pun lahir dari tangan sang novelis tersebut, latar dan alurnya hampir tidak jauh berbeda dengan film-film yang diangkat dari novel sebelumnya, konflik hubungan laki-laki dan perempuan selalu menonjol, yang membedakan diantaranya adalah alur dan seting tempat. Jika ketiga film pertamanya menggunakan seting tempat Perguruan Tinggi Mesir sementara di film terakhir yang dijadikan seting tempatnya adalah Pesantren Indonesia.

    Kini muncul kembali film Dakwah sejenis, ia diangkat dari sebuah Novel Lawas karya Buya Hamka, ‘Di bawah Naungan Ka’bah’. Film inipun memanfaatkan hubungan pasangan lawan jenis sebagai bumbu yang melebihi isi. Film bertema dakwah namun lebih menonjolkan konflik hubungan lawan jenis. Hal inilah yang menarik dari film tersebut. Konflik cintanya telah menarik emosi para penonton. Inilah yang menjadi daya tarik semua film-film sejenis di atas. Menonjolkan konflik cinta lawan jenis yang kemudian dibalut symbol-simbol agama. Bahkan menjelang ajal, kedua tokoh utama dalam film tersebut, Hamid dan Zaenab, ditengarai mengalami sakit batin karena Cinta yang terpendam, seperti halnya Qais dan Laila. Tokoh Pria meninggal di bawah ka’bah dalam keadaan sakit batin mengingat Zainab. Pertanyaannya kemudian apakah ini sebagai film dakwah atau sebagai film cinta? Jika tidak cermat, kita akan terjebak bahwa film-film yang menggunakan symbol besar Islam tersebut sebagai film dakwah.

    Film Dakwah Romantis sebagai Mitos Dakwah
    Dakwah Romantis berjalan diantara kepentingan syi’ar dan penonjolan konflik cinta yang sering disukai oleh penonton. Sebagaimana halnya sinetron yang harus dapat menarik sebanyak mungkin penonton untuk mendapatkan iklan, tampaknya eksistensi dakwah romantic yang dimediasi oleh film belum mampu melepaskan diri dari dramatisasi kisah cinta. Cinta merupakan emosi yang laku di jual. Hal ini menjadi ciri dari budaya popular yang mendorong pola konsumtif sebagai alat dari ideology kapitalistik.

    Sebagai bagian dari budaya Populer, dakwah romantis akan selalu terjebak pada kepentingan Pasar. Oleh karena itulah dalam kasus film-film dakwah Romantis, konflik cinta ditonjolkan daripada syiarnya. Jika kita tonton ‘Ema Ingin Naik Haji’ atau ‘Laskar Pelangi’, akan berbeda Jauh dengan film dengan genre ‘dakwah romantis’, film yang disebut terakhir memiliki karakter yang kuat sebagai film dakwah. Pesannya sangat nyata mengajak para penonton untuk tetap yakin dan berbuat baik.

    Dengan demikian, kebesaran lembaga Pendidikan Al-Azhar Mesir dan Agungnya Ka’bah hanya dijadikan sebagai simulacrum belaka, agar tampak sebagai film dakwah. ia hanyalah negasi symbol untuk menjual ide cerita popular agar tampak nyata sebagai film religi. Inilah apa yang disebut oleh Roland Barthes sebagai mythos (1972), film bergenre drama cinta namun decoding pesannya terkesan sebagai film dakwah. Dalam pandangan Barthes, mitos didefinisikan bukan dari objek pesannya tetapi bagaimana cara menyampaikannya. Hal ini dengan jelas dapat dilihat dari beberapa film-film dakwah yang disebutkan.

    Paradox Dakwah Populer
    Kasus boomingnya ‘film dakwah’, creator film ‘mencuri’ symbol-simbol Islam untuk dijual. Dari mulai kerudung, bahasa arab, pesantren, lembaga dakwah hingga tempat ibadah. Kemunculan ‘bahasa’ agama tersebut secara nyata mampu menyihir pandangan penonton. Simulasi bahasa agama dalam imagy popular yang diputar secara berulang-ulang berpengaruh terhadap sifat bujukan dari film. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Willian L. River, Jay W. Jensen dan Theodore Petersen (2003) akan pengaruh media film terhadap masyarakat tidak saja terhadap perilaku namun dapat melakukan modifikasi pesan.

    Modifikasi ini dapat kita cermati dalam kehidupan masyarakat, bagaimana misalnya kasus-kasus asusila yang dilakukan oleh perempuan berkerudung atau kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang yang beragama. Maki merajalelanya berbagai macam korupsi serta kekerasan diantara para pelajar dan mahasiswa kita menunjukan bahwa syiar, melalui film-film dakwah berbanding terbalik dengan boomingnya film dakwah. Sifat bujuk rayu media massa (film) tidak berbanding lurus dengan tujuan dari syiar. Syiar pada akhirnya alih-alih mengajarkan kedalaman dalam menghayati hidup seseorang sebagai manusia beragama, agar hidup lebih sabar, bijak dan terbuka justeru sebaliknya. Hal inilah yang disinggung oleh Yasraf (2011) bahwa dakwah popular yang berada dalam imajinasi popular berada dalam situasi paradox, ia berada antara kedalaman dan permukaan, antara kesederhanaan dan glamoritas, antara spirit mulia dan hasrat rendah. Hal ini menurut Yasraf disebabkan karena imajinasi agama berada dalam ruang imajinasi popular yang tidak bersesuaian dengan kedalaman, kemuliaan dan kesucian wacana spiritual sehingga terjebak dalam situasi yang kontradiksi.

    Tantangan bagi Da’i dan Lembaga Dakwah
    Perkembangan media komunikasi mendorong para Da’i untuk berperan serta sebagai bagian dari kewajiban syiar. Mereka menjadi bagian tak terpisahkan dari sinetron dan film sebagai media dakwahnya. Substansi pesan agama adalah perubahan perilaku penonton yang menjadi umatnya. Oleh karena itu seorang Da’i mempunyai tanggung jawab untuk memodifikasi perilaku umat ke arah yang positif. Da’i pun memiliki tanggungjawab lebih daripada sekedar bertabligh.

    Bermunculannya media popular semacam sinetron dan film dakwah yang kini sedang naik daun ditengarai tidak menyelesaikan masalah keumatan, alih-alih memberikan penghayatan kedalaman agama sehingga umat memiliki sifat dan sikap sabar, bijak dan tawakkal, justeru menjadi cepat marah, tersinggung dan tidak sabaran seperti disinggung oleh KH. Miftah Faridl.

    Oleh karena itu, menjadi tantangan khusus bagi para da’I popular yang memiliki umat paling banyak dan menjadikan media massa sebagai uslub dakwahnya harus mampu mengendalikan agar tabligh dan dakwahnya tidak terjebak pada kontradiksi yang justeru membawa umatnya kepada kedangkalan. Tanggung jawab tidak dipikul oleh da’i secara personal namun juga bagi lembaga-lembaga dakwah yang menggunakan televisi/ film sebagai media dakwahnya agar mampu menghasilkan karya yang dapat memberikan penghayatan kedalaman beragama kepada umat sehingga makna dan nilai pesan dakwah tidak bergeser menjadi mitos. Wallahu ‘Alam.

    Read More...

    Merayakan Keberagamaan Populer

  • by
  • Gambar Ilustrasi dari Arhaam.blogspot.com
    Menjelang sepuluh hari terkahir bulan ramadhan, porsi tayangan yang memiliki nilai syiar di media massa terlebih televisi bertambah. Setiap stasiun televisi seolah tidak ingin ketinggalan moment promosi ramadhan. Mulai dari pengajian Al-Qur’an, ceramah, sinetron Islami, acara-acara menjelang buka dan sahur, jejak sejarah Islam dan lain sebagainya. Sejumlah acara tersebut pun melibatkan sejumlah artis beken dan popular, baik yang memiliki karakter tetap sebagai artis yang dinilai religious atau artis religious dadakan. Sehingga syiar tersebut memiliki nilai plus, tidak saja memenuhi standar tuntutan amar makruf namun juga memenuhi selera penonton sebagai pasar televisi.

    Terpenuhinya selera penonton dapat dilihat dari sejumlah iklan yang masuk terhadap salah satu syiar agama yang ditayangkan. Hal ini menunjukan bahwa syiar agama telah mampu masuk ke dalam pasar televisi karena relatif diminati dengan ditunjukan oleh adanya rating. Ini seolah menjadi rumus tetap bagi ketertarikan para pemasang iklan di salah satu siaran. 

    Muballigh Selebritis
    Muballigh bertambah popular muncul bersamaan dengan meningkatnya syiar agama di televisi. Mereka sebagai bagian dari selebritis yang eksistensinya dilahirkan oleh televisi, sebut saja yang sudah lawas (alm) alm Zaenudin MZ, Aa Gym, Uje, Arifin Ilham. Alm Zaenudin MZ dapat dikatakan sebagai pelopor dan generasai paling awal dari dakwah popular. Sedangkan Aa Gym, Uje, Arifin Ilham, termasuk Yusuf Mansur dapat dikatakan sebagai generasi penerus dari Dakwah Populer yang eksis di televisi. 

    Memasuki tahun 2011, banyak mubaligh popular baru bermunculan yang tak kalah populernya dengan generasi awal, bahkan mereka telah menjelma sebagai selebritis baru seperti Mamah Dedeh, ustadz Nur Maulana, ataupun Ustadz Solmed, di samping masih banyak muballigh popular wajah lama yang tetap memiliki jamaahnya masing-masing.

    Televisi, Ruang Keberagamaan Populer
    Bertemunya antara karakter dakwah Islam yang khusu dan khidmat serta mendalam dengan tuntutan selera pasar dalam syiar Islam melahirkan jenis dakwah (tabligh/syi’ar) popular. Dakwah Populer sebagai bagian dari pola keberagamaan populer telah menjadi gaya hidup masyarakat postmodern yang dicirikan oleh kemajuan teknologi informasi sebagai cikal bakal dari perkembangan teknologi citra. Dakwah popular tidak terlepas dari citra dan imajinasi popular. Imajinasi Populer sebagaimana dinyatakan oleh Yasraf (2011). Ia merupakan salah satu imajinasi cultural yang dikembangkan dalam budaya popular yang dapat menguatkan imajinasi transcendental namun juga bisa sebaliknya, ia justeru bersifat kontradiktif.

    Vivian dan Biagi (Vivian, 1996 dan Biaggi, 2009) melihat bahwa Televisi merupakan media paling popular yang mampu memampatkan pengaruh yang kuat terhadap ruang-ruang kesadaran para pemirsanya. Keserentakan dan jangkauannya yang cukup luas dan heterogen menjadikan televisi masih satu-satunya media yang dapat diakses oleh masyarakat hingga kini. Melalui televisi audiens sangat mudah mengenali dengan cepat sebuah produk atau konten siarannya. Begitupun era populernya krudung menjadi sebuah fashion hampir dapat dipastikan dikenalkan oleh televisi. Selebritas kita yang sering tampil di layar kaca membantu mempopulerkan jilbab sebagai mode sehingga orang tidak lagi alergi terhadap salah satu symbol agama Islam tersebut. Di dalam televisilah perayaan keberagamaan popular menemukan bentuknya.

    Kemajuan atau Pendangkalan Agama?
    Relasi antara citra yang ditampilkan oleh televisi dan dakwah sebagai jalan syiar agama berada dalam pembingkaian. Dengan demikian, dakwah popular dibingkai dalam wadah citra. Karakter pencitraan merupakan ciri khas dari symbol komunikasi yang dikembangkan oleh industry yang berorientasi pada keuntungan. Citra sendiri bermain di permukaan. Ketika syiar agama bertemu dengan budaya pop tersebut maka lahirlah dakwah dan pola keberagamaan popular sehingga terjadi tarik menarik antara kedalaman dan kedangkalan. Pada satu sisi harus memenuhi tuntuntan syiar agama tetapi pada sisi lain harus memenuhi selera pasar. Hal ini tampak sekali pada tayangan-tayangan syiar agama di televisi. Kita dapat mencermati bagaimana meriahnya setiap tabligh televisi bak hiburan, sebut saja acara Indahnya Islam yang disampaikan oleh Ustadz Nur Maulana atau Acara Mamah dan Aa yang selalu ramai dan penuh tawa. Salah satu diantaranya selalu menghadirkan artis sebagai daya tarik jamaah dan siaran. 

    Pada sisi lain, ustadz-ustadz pun tidak sekedar penyampai risalah, ia menjelma menjadi artis. Mereka menjadi bintang iklan dan sinetron. Dan dalam faktanya mereka adalah artis yang secara khusus berperan sebagai ustadz. Kemasan syiar agama sekarang lebih variatif dan kreatif seperti halnya acara reality dan talk show live.

    Jika melihat lalu lintas kegiatan dakwah di televisi, terlebih saat bulan ramadhan. Umat Islam tentu akan merasa bangga. Ini adalah kemajuan dakwah Islam yang didorong oleh kemajuan teknologi informasi. Dakwah pun tidak hanya berhenti sampai di situ, muncul pula dakwah versi online melalui portal-portal dakwah ataupun Youtube. Ini merupakan bentuk nyata dari kemajuan syiar Islam.

    Dampak nyata dari syiar Islam salah satunya adalah membaiknya citra Islam sehingga orang tidak lagi alergi terhadap symbol-simbol Islam; orang bangga menggantungkan tasbih di dalam mobilnya, seorang perempuan bangga mengenakan krudung karena tidak kampungan lagi, mereka tetap bisa tampil cantik dan gaul begitupun dengan laki-laki merasa sangat religious ketika mengenakan peci dan baju koko.
     
    Sisi lain berkembangnya lalulintas dakwah melalui media-media tersebut, tetap tidak menyurutkan orang untuk melakukan tindak kejahatan yang bertolak belakang dengan agama yang dianutnya. Saat dakwah memasuki kalangan eksekutif seperti yang dilakukan oleh Aa Gym melalui manajemen Qolbu, Ari Ginanjar melalui ESQ ataupun Kang Jalal melalui tasaufnya. Justeru pencurian eksekutif pun (korupsi) tidak pernah surut malah semakin menggurita. Pada kenyataan inilah muncul pertanyaan, apakah dakwah popular tersebut sebagai bagian dari pola keberagamaan popular menambah kedalaman orang untuk memaknai agama atau justeru membuatnya makna beragama menjadi dangkal?. Saat pemaknaan beragama menjadi dangkal, maka tidak heran korupsi makin menggila dan kejahatan lainnya yang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku beragama. 

    Analisis ini diperkuat oleh hasil survey kecil-kecilan yang dilakukan oleh Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi pada bulan Mei lalu terhadap 100 responden lebih. Salah satu ketertarikan audiens terhadap sinetron Islam KTP sebagai sinetron pavoritnya adalah karena kehadiran TB serta Mamat dan Karyo yang selalu bisa menghibur. Begitupun bagi saya sendiri, salah satu daya tarik dari sinetron Para Pencari Tuhan (PPT) adalah dinamika konflik yang diciptakan antara Azzam dan Aya, konflik cinta.
    Namun terlepas dari kemenonjolan Dakwah Populer yang disiarkan masing-masing televisi swasta kita. Fakta di lapangan menunjukan selain gegap gempita syiar agama pada media-media, juga kriminalitas semakin meningkat juga. Ini barangkali sebagai sifat paradox dari pola keberagamaan popular. Ini mirip dengan sebuah pesta, kemeriahannya dapat tergantikan dengan cepat dengan situasi baru. 

    Tetap Optimis
    Walaupun telah terjadi paradox dari dampak pola keberagamaan popular melalui syiar populernya. Sebagai muslim yang memiliki kewajiban menyampaikan syiar Islam sebagaimana terdapat dalam salah satu hadits,ballighu anni walau ayat’(sampaikanlah walaupun satu ayat). Para muballigh dan da’i sebagai simpul agama tetap harus optimis. Begitupun kita sebagai konsumen agama tetap harus memiliki optimisme terhadap keberjalanan dakwah Islam di era industry tersebut. 

    Walaupun dikemas dalam bingkai popular, bukan berarti dakwah Islam yang dimediasi oleh media massa yang dikendalikan oleh pemilik modal yang berorientasi pada keuntungan tersebut hanya bermain pada pencitraan dan permukaan saja sehingga telah terjadi pendangkalan. Begitupun dengan muballighnya, mereka tidak hanya mencari penghidupan saja melalui keahliannya bertabligh, namun memiliki niat yang tulus untuk mencerahkan umat. Akan selalu terdapat hikmah bagi orang yang mencari makna dalam beragama. Semoga. Wallahu’alam.

    Read More...

    Pemukulan Wartawan, Korban Kesombongannya Sendiri?

  • by
  • Mungkinkah pemukulan wartawan sebagai korban kesombongannya sendiri? Pertanyaan ini diajukan oleh salah seorang Kompasianer saat mengomentarai tulisan ‘Siswa, Korban Konten Media’. Lantas saya menjawabnya bahwa mungkin saja pemukulan wartawan tersebut sebagai boomerang bagi wartawan sendiri. Jika pada tulisan ‘Siswa, Korban Konten Media’ saya menekankan pada kekerasan yang dilakukan oleh Media sendiri seperti pada tulisan saya yang lain Televisi Menebar Teror’.

    Saya menjawab kemungkinan ‘ya’, bahwa pemukulan wartawan oleh siswa sekolah sebagai kesombongannya sendiri. Hal tersebut berdasarkan pengalaman selama berinteraksi dengan beberapa wartawan. Dan tentu saja, tulisan ini tidak bermaksud menggeneralisir, namanya juga opini dan pengalaman pribadi serta citra yang selama ini menerpa wartawan secara umum.

    Wartawan, sama halnya seperti kita, ia manusia biasa, ada yang baik ada juga yang nakal. Ia juga berbeda karakter, ada yang lembut, ada yang keras dan kasar, ada yang memiliki sifat ekspresif yang reaksioner, ada yang kritis, ada yang analis. Oleh karena itu berdasarkan berbagai macam karakter wartawan sebagaimana halnya manusia biasa, tidak menutup kemungkinan saat di lapangan, sangat terbuka kemungkinan gesekan antara wartawan dengan pelajar yang sedang tawuran terjadi, jika sudah bentrok, maka perkelahian tidak akan terhindarkan. Apalagi jika wartawan merasa dilecehkan oleh anak kecil yang jauh dibawah umurnya.
    Ego yang tinggi justeru akan menambah suasana menjadi tambah panas. Oleh karena itu, pemukulan terhadap wartawan merupakan boomerang dari ego wartawan sendiri yang memiliki ego yang tinggi.

    Pengalaman Berinteraksi dengan Wartawan
    Wartawan, karena kerjanya di lapangan, maka siapapun pasti pernah bertemu dengan wartawan, apalagi saat ada kegiatan, event atau kejadian di tempat kita tinggal. Mereka akan gampang ditemui. Oleh karena itulah, siapapun barangkali pernah berinteraksi dengan wartawan.

    Beberapa kali berinteraksi dengan wartawan, kita akan melihat mereka sebagai sosok yang cerdas karena luas wawasannya, tetapi juga di antara mereka ada yang biasa-biasa saja. Namun secara umum, yang saya nilai dari seorang wartawan, mereka memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi. Hal tersebut dikarenakan mereka harus berinteraksi dengan berbagai macam orang dari berbagai macam kalangan sehingga unsur percaya diri mutlak diperlukan oleh Wartawan, dan tentu saja oleh kita semua.

    Rasa diri yang tinggi yang dimiliki oleh wartawan kadang terlihat berbeda dan berubah menjadi sikap jumawa, over, bahkan terlampau sombong. Saat saya masuk pada suatu kelas di salah satu perguruan tinggi di Bandung, saya berkenalan dan berteman dengan seorang wartawan. Penilaian saya dan teman-teman terhadap sosoknya adalah sosok yang overconfidence dengan isi dan tampilan yang biasa saja (penilaian pada waktu itu). Bahkan dia sendiri mengatakan kepada kami saat itu, bahwa seorang wartawan itu memiliki sifat selalu merasa cerdas dan lebih pintar dari siapapun. Karakter dia pun précis seperti apa yang dikatakannya sendiri. Bahkan seringkali ia sedikit merendahkan orang lain (subjektif).

    Satu kali saya sempat ngobrol dengan salah satu wartawan lokal di Bandung. Saat itu saya terjebak dalam obrolan tentang nasib media cetak dengan wartawan tersebut. Dalam obrolan tersebut, ia dengan jumawa dan pengetahuannya mengatakan bahwa media cetak itu PASTI akan mati dalam waktu beberapa tahun ke depan, bahkan ia mengatakan hal tersebut dikatakan oleh seorang praktisi media yang sangat tahu tentang seluk beluk kertas. Karena memastikan hal yang belum jelas, apalagi berbicara masa depan, saat itu saya mengajukan ketidaksetujuan saya. Namun ia mengatakan, “KATA SAYA PASTI, SAYA SUDAH JELAS REFERENSINYA,”. Tentu saja saat itu saya merasa tergerak, emangnya mati yang sudah pasti, sementara jika melihat makin bertambahnya media cetak di Bandung, tentu saja kepastian media cetak akan mati tersebut sedikit terbantahkan.

    Karena dia terus mengatakan kepastiannya, saya cari celah agar tidak berdebat terus, karena bagi saya jika Diskusi sudah berujung pada kepastian, apalagi yang mau didiskusikan, tidak guna bagi saya, jika seseorang yang seolah merasa paling tahu kemudian berdiskusi. Akhirnya saya membelokan, dengan bertanya tentang televisi digital. Dia mengatakan,”ENTE, TELEVISI DIGITAL SAJA GAK TAU, BAGAIMANA MAU BERDEBAT TENTANG NASIB MEDIA CETAK,”. Saat itulah saya melihat arogansinya, padahal saya tidak kenal dan belum pernah ketemu sebelumnya dengan dia.

    Namun tentu saja saya itu hanyalah sebagian pengalaman yang tidak mengenakan, masih cukup banyak pengalaman yang tidak mengenakan lainnya saat berinteraksi dengan wartawan, terlebih cerita kawan.
    Di samping cerita miring dan tidak mengenakan, saya melihat masih banyak wartawan-wartawan yang memiliki sifat rendah hati dan ramah bahkan jauh dari sifat jumawa. Baik lokal maupun nasional. Termasuk saat mengenal Mas Nurullah dari Kompas dan Kang Pepih hehehe.

    Namun berdasarkan cerita dan pengalaman saya, mungkin juga teman-teman, kasus pemukulan wartawan, kemungkinan besar karena ulah wartawan sendiri yang tidak bisa menahan emosi dengan keegoannya yang tinggi. Apalagi jika kita lihat dalam salah satu tayangan, kita lihat bagaimana wartawan itu dengan penuh emosi menantang juga para siswa.

    Wartawan juga manusia biasa, sebagai agen informasi di dalam institusi yang memiliki kontribusi besar dalam membangun bangsa dan Negara ini, tetap harus mampu mengontrol emosinya.
    Read More...

    Twitter Updates

    Total Pageviews